Menjaga kelestarian alam merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari etika militer modern. Bagi para taruna Akmil Kalbar, yang sering kali melaksanakan latihan di tengah lebatnya hutan tropis Kalimantan Barat, kemampuan untuk tetap beroperasi secara efektif tanpa merusak ekosistem adalah sebuah keharusan. Memahami kebersihan lingkungan bukan hanya soal estetika, melainkan berkaitan erat dengan disiplin taktis dan keamanan personel. Sampah yang berserakan atau jejak aktivitas manusia yang ditinggalkan di hutan dapat menjadi sumber informasi berharga bagi pihak lawan untuk melacak keberadaan pasukan.
Langkah pertama dalam menjaga kebersihan selama operasi lapangan adalah pengelolaan limbah domestik secara mandiri. Setiap taruna diajarkan untuk membawa kembali seluruh sampah anorganik yang mereka hasilkan, seperti pembungkus makanan ransum atau kaleng bekas. Di tengah hutan Kalimantan yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi, plastik dan bahan kimia dapat mencemari sumber mata air yang digunakan oleh flora dan fauna setempat. Oleh karena itu, prinsip leave no trace (jangan tinggalkan jejak apa pun kecuali jejak kaki) menjadi doktrin yang tertanam kuat dalam setiap pergerakan unit.
Selain sampah plastik, aspek kebersihan yang sangat diperhatikan adalah pembuangan limbah biologis. Dalam prosedur standar militer, pembuatan lubang pembuangan darurat harus dilakukan dengan jarak yang cukup jauh dari sumber air permukaan atau sungai. Hal ini untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri seperti E. coli yang dapat menyebabkan wabah penyakit di dalam barak darurat. Kesehatan prajurit adalah aset utama; jika lingkungan di sekitar lokasi operasi tidak terjaga dengan baik, maka risiko penyakit menular akan meningkat, yang pada akhirnya akan melemahkan daya tempur pasukan secara keseluruhan sebelum sempat berhadapan dengan musuh.
Edukasi mengenai kebersihan lingkungan juga mencakup cara memasak dan mendirikan bivak. Di Akmil Kalbar, taruna dilatih untuk menggunakan bahan bakar yang minim asap dan tidak meninggalkan bekas pembakaran yang luas di permukaan tanah. Bekas api unggun yang besar dapat merusak struktur tanah dan membunuh mikroorganisme penting. Sebagai gantinya, mereka menggunakan teknik penggalian lubang kecil yang nantinya akan ditutup kembali sehingga kondisi permukaan tanah tampak seperti semula. Ketelitian dalam mengembalikan kondisi alam ini juga merupakan bagian dari teknik penyamaran agar posisi pasukan tidak mudah dideteksi melalui pengamatan udara.