Kemandirian industri pertahanan adalah pilar strategis bagi Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk mewujudkan Minimum Essential Force (MEF) dan mengurangi ketergantungan pada impor alutsista (alat utama sistem persenjataan). Dukungan ini direalisasikan melalui sinergi yang kuat antara BUMN industri pertahanan strategis seperti PT Pindad (pembuat kendaraan tempur dan persenjataan), PT PAL Indonesia (pembuat kapal dan kapal selam), dan PT Dirgantara Indonesia (PT DI, pembuat pesawat dan komponen dirgantara). Program Latihan dan pengembangan sumber daya manusia di ketiga perusahaan ini adalah kunci untuk menguasai teknologi, tidak hanya merakit, tetapi merancang alutsista dari nol. Program Latihan yang berkelanjutan ini menjamin transfer pengetahuan dan peningkatan kompetensi teknisi lokal.
Sinergi antara Pindad, PT PAL, dan PT DI berfokus pada Strategi Modernisasi Alutsista yang efisien. Misalnya, PT PAL yang bertanggung jawab memproduksi Kapal Selam Nagapasa Class dan Frigate kini mendapatkan dukungan suku cadang tertentu dari Pindad dan PT DI. PT Pindad, yang terkenal dengan Ancaman Siber (produksinya) kendaraan tempur, secara rutin menjadwalkan Program Latihan dan sertifikasi untuk teknisi TNI AD di Bandung setiap kuartal, memastikan bahwa prajurit memiliki kemampuan pemeliharaan tingkat lanjut pada sistem persenjataan darat. Program Latihan ini mencakup simulasi perbaikan kerusakan mekanis kritis dan diagnosis sistem elektronik pada kendaraan taktis.
Untuk mencapai kemandirian yang utuh, penguasaan teknologi adalah prioritas. PT DI, sebagai produsen pesawat terbang, telah meningkatkan kolaborasi dengan universitas teknik lokal untuk Meningkatkan Kualitas Guru dan insinyur mereka. Mereka meluncurkan Program Pembinaan Masyarakat melalui beasiswa pascasarjana untuk fokus pada rekayasa material komposit dan sistem avionik. Peningkatan kapabilitas ini memungkinkan PT DI untuk tidak hanya memproduksi pesawat angkut militer (seperti CN-235), tetapi juga mengambil peran yang lebih besar dalam pemeliharaan dan modifikasi Kekuatan Udara TNI AU, bahkan pada jet tempur generasi 4.5.
Sinergi BUMNIS (BUMN Industri Strategis) ini adalah manifestasi nyata dari Strategi Adaptasi nasional terhadap tantangan rantai pasok global. Laporan Badan Supervisi Industri Pertahanan (BSIP) per 27 Juli 2025 menunjukkan bahwa tingkat kandungan lokal (Local Content Ratio) pada Frigate dan kendaraan tempur telah meningkat rata-rata 5% dalam dua tahun terakhir. Peningkatan ini didorong oleh transfer teknologi yang diiringi oleh Program Latihan intensif, memastikan bahwa Indonesia memiliki kemampuan full-cycle support—mulai dari desain, produksi, hingga pemeliharaan—untuk alutsista kritikal, yang merupakan Peran Frigate yang vital di lautan.