Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga kedaulatan dan keamanan maritimnya. Di sinilah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) memiliki peran sentral dalam mengarungi Nusantara, memastikan setiap jengkal perairan terjaga dari berbagai ancaman. Mengarungi Nusantara bagi TNI AL bukan sekadar patroli biasa, melainkan sebuah misi strategis untuk mempertahankan integritas wilayah dan kekayaan laut Indonesia. Artikel ini akan mengupas tuntas peran dan fungsi vital TNI AL dalam mengarungi Nusantara untuk pertahanan laut.
Tugas utama TNI AL adalah menegakkan kedaulatan dan hukum di seluruh wilayah perairan Indonesia, termasuk perairan teritorial, zona ekonomi eksklusif (ZEE), dan landas kontinen. Ini berarti mereka harus secara aktif berpatroli dan mengawasi setiap aktivitas di laut untuk mencegah kejahatan maritim seperti penangkapan ikan ilegal, penyelundupan narkoba, perompakan, serta potensi pelanggaran batas oleh kapal-kapal asing. Misalnya, pada 20 Juni 2025, KRI Usman Harun-359 berhasil mencegat kapal tanker berbendera asing yang dicurigai melakukan transfer minyak ilegal di perairan Laut Jawa, sebuah tindakan nyata dalam menjaga sumber daya nasional.
Untuk menjalankan tugas-tugas ini, TNI AL memiliki berbagai unsur kekuatan laut. Kapal perang berbagai jenis, mulai dari fregat, korvet, hingga kapal patroli cepat, menjadi tulang punggung operasi di permukaan. Di bawah permukaan, kapal selam menjalankan misi senyap untuk pengintaian dan serangan rahasia. Selain itu, pesawat udara patroli maritim dan helikopter dari Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) memberikan dukungan pengawasan dari udara, memperluas jangkauan deteksi TNI AL. Tak ketinggalan, Korps Marinir, sebagai pasukan amfibi, siap diterjunkan untuk operasi pendaratan dan pengamanan wilayah pesisir.
Selain fungsi pertahanan dan penegakan hukum, TNI AL juga aktif dalam operasi militer selain perang (OMSP). Ini mencakup operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) dalam insiden maritim, seperti yang terjadi pada awal Mei 2025 ketika KRI Dokter Wahidin Sudirohusodo-991 dikerahkan untuk membantu evakuasi korban kecelakaan kapal di Selat Karimata. TNI AL juga terlibat dalam bantuan kemanusiaan ke pulau-pulau terpencil, serta kegiatan survei hidrografi untuk memperbarui peta laut demi keselamatan navigasi.
Peningkatan kemampuan dan modernisasi alutsista menjadi fokus berkelanjutan bagi TNI AL. Melalui pendidikan di Akademi Angkatan Laut dan pelatihan khusus seperti yang dijalani oleh Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Detasemen Jala Mangkara (Denjaka), profesionalisme prajurit terus ditingkatkan. Dengan kesiapan operasional yang tinggi dan komitmen kuat, TNI AL terus mengarungi Nusantara, memastikan keamanan maritim dan menjaga kedaulatan bangsa Indonesia di lautan.