Dalam skenario latihan bertahan hidup atau survival di hutan rimba yang diselenggarakan oleh Akmil Kalbar, risiko cedera fisik adalah sesuatu yang tidak terelakkan. Salah satu cedera yang paling sering terjadi adalah luka terbuka, baik akibat goresan ranting tajam, benturan batu, maupun sayatan alat bantu latihan. Bagi seorang calon perwira, kemampuan melakukan pertolongan pertama pada diri sendiri atau rekan setim bukan sekadar keterampilan tambahan, melainkan kompetensi krusial untuk mempertahankan nyawa dalam kondisi darurat.
Langkah pertama dalam menangani luka terbuka di lapangan adalah menjaga ketenangan. Kepanikan hanya akan memicu detak jantung lebih cepat, yang justru akan mempercepat aliran darah keluar dari lokasi cedera. Prioritas utama setelah menjaga kestabilan emosi adalah menghentikan perdarahan. Taruna diajarkan untuk menggunakan kain bersih atau perban dari survival kit untuk memberikan tekanan langsung pada sumber perdarahan. Jika tidak ada perban steril, penggunaan pakaian bersih yang tersedia dapat menjadi alternatif sementara untuk menutup area tersebut dari paparan kontaminasi lingkungan hutan yang penuh dengan mikroorganisme.
Setelah perdarahan terkontrol, langkah berikutnya adalah pembersihan area di sekitar luka. Dalam kondisi bertahan hidup di alam bebas, infeksi merupakan ancaman yang sama berbahayanya dengan luka itu sendiri. Air bersih, jika tersedia dalam jumlah cukup, harus digunakan untuk membilas kotoran, sisa tanah, atau serpihan yang menempel. Sangat penting untuk tidak menggunakan air sungai yang mengalir tanpa pemurnian karena risiko kontaminasi bakteri dapat menyebabkan komplikasi infeksi septik yang parah. Jika tersedia antiseptik dalam paket survival, gunakanlah dengan hati-hati untuk mencegah pertumbuhan bakteri di area sekitar luka.
Setelah dibersihkan, penutupan luka harus dilakukan dengan teknik yang memadai. Jangan menutup luka terlalu rapat jika terdapat tanda-tanda infeksi atau kotoran yang masih tertinggal di dalamnya, karena hal ini dapat menciptakan lingkungan anaerob yang ideal bagi bakteri patogen untuk berkembang biak. Gunakan plester atau perban untuk melindungi area tersebut dari gesekan pakaian atau peralatan militer yang dibawa selama Latihan Bertahan. Dalam situasi mandiri, taruna harus terus memantau kondisi luka setiap beberapa jam, terutama untuk mendeteksi adanya kemerahan yang meluas, rasa panas, atau nanah yang menandakan infeksi telah terjadi.