Perkembangan teknologi telah mengubah lanskap konflik secara fundamental, membawa medan perang baru ke dimensi siber dan ruang angkasa. Menyadari pergeseran paradigma ini, Tentara Nasional Indonesia (TNI) telah memulai proses Transformasi Doktrin TNI untuk memastikan kesiapan pertahanan menghadapi ancaman non-tradisional yang semakin canggih. Transformasi Doktrin TNI ini tidak hanya melibatkan pengadaan peralatan baru, tetapi juga restrukturisasi organisasi dan pengembangan keahlian personel untuk mengintegrasikan domain siber dan ruang angkasa ke dalam strategi Operasi Gabungan (Tri Dharma Eka Karma). Pengakuan terhadap domain baru ini sangat krusial karena serangan siber dan gangguan satelit dapat melumpuhkan sistem komando dan kontrol militer bahkan sebelum konflik fisik dimulai.
Dalam domain siber, Transformasi Doktrin TNI diwujudkan melalui pembentukan unit-unit siber terintegrasi yang berfungsi untuk pertahanan, intelijen, dan serangan siber. Tujuannya adalah mengamankan jaringan komunikasi vital TNI dari serangan luar, sekaligus mengembangkan kemampuan untuk melancarkan operasi siber ofensif terhadap musuh. Menurut laporan dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) pada Rapat Tahunan 2025, serangan siber yang menargetkan infrastruktur pertahanan Indonesia mengalami peningkatan signifikan sebesar 25% dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Data ini memperkuat urgensi TNI untuk memperkuat cyber resilience dan memasukkan perang siber sebagai bagian integral dari setiap latihan tempur.
Sementara itu, domain ruang angkasa menjadi penting karena hampir seluruh sistem komunikasi, navigasi, dan pengintaian modern TNI bergantung pada aset luar angkasa, terutama satelit. Doktrin pertahanan kini mencakup pemahaman tentang Space Domain Awareness (kesadaran domain ruang angkasa) dan perlindungan terhadap aset satelit yang dimiliki Indonesia. Meskipun Indonesia belum memiliki angkatan ruang angkasa terpisah, Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas), yang kini diperluas perannya, mulai memasukkan pemantauan dan analisis ancaman ruang angkasa ke dalam mandat operasionalnya. Langkah ini sejalan dengan keputusan yang diambil pada pertemuan strategis TNI-AD, TNI-AL, dan TNI-AU di Jakarta pada April 2026 untuk mempercepat integrasi teknologi satelit ke dalam sistem senjata. Adaptasi doktrinal ini menegaskan bahwa masa depan keamanan nasional terletak pada penguasaan teknologi di domain-domain non-fisik.